KONSUMSI AIR DENGAN KANDUNGAN SEDIMEN URIN DI KECAMATAN TERNATE UTARA
DOI:
https://doi.org/10.5281/zenodo.3514589Keywords:
Kata Kunci : Sedimen Urin dan Konsumsi AirAbstract
Air merupakan komponen utama dalam tubuh manusia. Selain frekuensi konsumsi air yang cukup, kualitas sumber air minum yang dikonsumsi juga harus diperhatikan. KEPMENKES RI No. 907 tahun 2002 bahwa persyaratan kualitas air minum tidak boleh memiliki tingkat kesadahan lebih dari 100 mg/L. Kesadahan air yang tinggi mengindikasikan tingginya kandungan zat kapur. Kandungan kapur pada air minum merupakan salah satu faktor penyebab terbentuknya batu pada saluran kencing. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan konsumsi air dengan kandungan sedimen urin di Kecamatan Ternate Utara. Jenis penelitian yang digunakan adalah analytic corelational dengan desain cross sectional. Uji yang dipakai untuk menganalisis hubungan adalah Coefficient Contingency. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Ternate Utara pada bulan Oktober s/d Desember 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang mengonsumsi sumur air galian di Kecamatan Kota Ternate Utara. Sampel dalam penelitian ini masyarakat yang tinggal di Kelurahan Kasturian dan Sango dan dufa-dufa, dengan tekhnik Consecutive Sampling. Data hasil penelitian diolah mengunakan bantuan komputer dengan software pengolah data. Data penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, grafik dan dinarasikan. Hasil penelitian menjelaskan bahwa sebesar 50% responden (25 orang) mengonsumsi air cukup, sedangkan sebesar 4 responden (8%) mengonsumsi air kurang, sebesar 94% responden (47 orang) memiliki sedimen urin negatif (tidak terdapat batu oksalat dalam urin), sedangkan terdapat 6% responden (3 orang) memiliki sedimen urin positif (terdapat batu oksalat dalam urin), nilai korelasi antara konsumsi air dengan kandungan sedimen urin (terbentuknya kristal oksalat yang ditunjukan oleh nilai Coefficient Contingency) adalah 0.245 artinya kedua variabel tersebut saling berhubungan akan tetapi kekuatan korelasinya lemah dan arah hubungan kedua variabel tersebut adalah searah. Kesimpulan hasil penelitian adalah bahwa sebagian besar responden mengonsumsi air kategori cukup dengan rerata 2162.28 St.Dev ±389.108, hanya 6 % responden yang sedimen urinnya adalah positif (terdapat batu oksalat dalam urin), dan nilai korelasi antara kedua variabel tersebut adalah 0.245 yang artinya saling berhubungan akan tetapi kekuatan korelasinya lemah dan arah hubungan kedua variabel tersebut adalah searah.
References
Ariawan I. 2005. Sample size and Sample Design for Nutritional Research. Course material for International Course on Applied Epidemiology with Special Reference to Nutrition. SEAMEO-TROPMED-RCCN, University of Indonesia. Jakarta.(25 April-3 May 2005).
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Ternate. 2015. Kota Tenate dalam Angka. https://ternatekota.bps.go.id/publikasi/2014/statda/files/search/searchtext.xml.(diak-ses pada tanggal 16 Maret 2017).
Borghi L, Meschi T, Amato F, Briganti A, Novarini A & Giannini A (1996): Urinary volume, water and recurrences in idiopathic calcium nephrolithiasis: a 5-year randomized prospective study. J. Urol.155, 839–843.
Curhan GC, Willett WC, Speizer FE, Spiegelman D & Stampfer MJ (1997): Comparison of dietary calcium with supplemental calcium and other nutrients as factors affecting the risk for kidney stones in women. Ann. Intern. Med.126, 497–504.
Gaedjito, Widjoseno. 2008. Retensi Urin Permasalahan dan Penatalaksanaannya. Juri Vol.l 4, No.2, Tahun 1994, 2.(diakses pada tanggal 3 November 2016).
Izhar, M.D, Haripurnomo K, Suhardi D. 2007. Hubungan antara Kesadahan Air Minum, Kadar Kalsium, dan Sedimen Kalsium Oksalat Urin pada Anak Usia Sekolah Dasar. Berita Kedokteran Masyarakat, Vol.23, No.4, Desember 2007. (diakses pada tanggal 30 November 2017).
Kohri K, Garside J & Blacklock NJ (1988): The role of magnesium in calcium oxalate urolithiasis. Br. J. Urol.61, 107–115.
Krisna, DNP. 2011. Faktor Risiko Kejadian Suspect Penyakit Batu Ginjal di Wilayah Kerja Puskesmas Margasari Kabupaten Tegal Tahun 2010. Skripsi. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Semarang.
Liebman M & Costa G (2000): Effects of calcium and magnesium on urinary oxalate excretion after oxalate loads. J. Urol.163, 1565–1569.
Li MK, Blacklock NJ & Garside J (1985): Effects of magnesium on calcium oxalate crystallization. J. Urol.133, 123–125.
Nicar MJ, Hill K & Pak CYC (1987): Inhibition by citrate of spontaneous precipitation of calcium oxalate in vitro. J. Bone Miner. Res.2, 215–220.
Nirmala, D. 2010. Nutrition and Food. Buku Kompas. Jakarta










